Ibuk

I gave her hard time when i grew up. Harsh talk, anger, silent. If i can come back to the past,  I will scold that young me for doing that to my ibuk. Surely slap her few times to put some senses to her clouded judgement.

Baru-baru ini ibukku berkata padaku, “Ketakutan ibuk yang paling besar adalah marah sama kamu, Nak. Ibuk takut kemarahan ibuk akan menghambat jalanmu.” Do you realize what she said? Artinya setiap kali aku membuat beliau sedih, setiap kali itu pula beliau secara tegas mengatakan dalam doanya bahwa beliau memaafkan aku, memohonkan ampun atas kelakuanku, memohon agar Allah tidak menjatuhkan hukuman atasku.

Beruntung ya, aku punya Ibuk yang mengerti kedudukannya dalam hidup anak-anaknya. Beliau mengerti bahwa sampai aku menikah nanti, beliaulah orang yang paling berkuasa atas diriku. Beliau mengerti bahwa satu kata “ah” dariku kepadanya, seujung kuku sakit hati yang dirasakannya, sudah cukup untuk menjatuhkanku ke jurang kenistaan -tsah-, tidak peduli seberapa kuat pijakanku sekarang.

Selain itu doa Beliau juga lebih makbul dari doa 40 orang wali. With her by my side, nothing could ever harm me. I am safe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s