Dua Ibu, Arswendo Atmowiloto

Hiyya People…

too much sunshine for my taste.. but overall it’s been a good week, more over we’are heading to the longest weekend in July…

Malam  Minggu lalu saya ke gramedia (nasibnya jomblo oh..oh XD) Saya cuma berniat untuk sekedar melihat lihat saja. Niatnya mau berhemat gituh! Kan kalo nongkrong di gramed jadi terhibur gratis hehehe.

Sebenarnya niat hati yang mulia itu bisa dengan mulus terlaksana, seandainya saja tangan ngratil saya ini  diikat kuat kuat. Tapi nasi telah menjadi bubur, begitu tangan ini nggak sengaja menyentuh sampul buku “Dua Ibu” buah karya Pak Arswendo, saat itu juga kutukan menimpa saya. Kutukan harus punya namanya

Tangan saya nggak bisa lepas dari buku itu. Mata terus bergerak dari halaman satu ke halaman berikutnya, setiap halaman yang terbuka membuat saya semakin dikuasai oleh kutukan tersebut. Setiap bait kalimatnya melenakan, membuat saya nggak lagi ngeh terhadap sekeliling. Untung ada orang dudul yang nggak sengaja menyenggol bahu saya, sehingga saya mampu keluar dari trans yang saya alami.

Berlebihan kah saya?

Nggak, saya  tidak sedang hiperbolis. Coba saja sendiri. Saya jamin sejak kalimat pertama, tanpa sadar  anda  akan terhanyut dalam kisah tersebut.

Dua ibu adalah novel yang sederhana. Isinya  sederhana. Menceritakan seorang ibu, tentu saja dan keinginannya membahagiakan buah hatinya. Sebenarnya banyak cerita serupa yang pernah ditulis. Di Indonesia maupun di luar negeri sana, jaman ini ataupun puluhan tahun yang lalu.

Tapi…

Mungkin anda belum menyadarinya, atau seperti saya yang baru saja menyadarinya? Dalam dunia literatur, ternyata bukan hanya kisah cinta romantis yang selalu laris manis . Para Ibu, ternyata selain memiliki kasih sepanjang masa untuk anak-anaknya, juga memiliki kisah sepanjang masa yang selalu berhasil mempesona para pendengarnya.

Ketika membaca sebuah cerita romantis,  akan banyak suara berpendapat yang terdengar. Ada yang pro, ada yang kontra. Ada yang berkata ‘luar biasa’ ada yang berkata ‘picisan’ saja. Tetapi jika sekelompok orang mendengar satu kisah sederhana tentang kasih Ibu, semuanya akan terdiam. Dan dalam diam mereka itu kita semua tahu (anda-pun pernah merasakannya kan?) sebersit rasa haru sedang menyelinap dalam kalbu, membuat kita tak bisa lagi berkata kata, bahkan terkadang sampai menitikkan air mata…atau nangis gulung-koming??

memang banyak cerita tentang Ibu yang telah di tulis dan di publikasikan. Namun di luar sana masih  banyak sisi Ibu yang belum berhasil dikisahkan.

Arswendo memanfaatkan fenomena tersebut, bahwa tidak seorangpun yang bisa menolak daya tarik sebuah cerita tentang ibu. Ia membuat novel Dua Ibu.  Ia membeberkan secara gamblang, dalam frame budaya jawayang kental,  dengan alur yang sangat mudah dimengerti namun tetap unik,  satu lagi bentuk kasih sayang seorang Ibu.

Katanya “Dalam kehidupan ada dua macam ibu. Pertama, ialah sebutan untuk perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua, ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat kebahagiaan anak orang lain, dengan rasa bahagia pula”

Pada suatu titik dalam buku ini dikisahkan bagaimana sang anak harus merelakan ibunya untuk melakukan segala usaha sekedar untuk membuat sang anak merasa bahagia, padahal ia tahu setelah itu sang ibu harus menanggung kesusahan yang teramat sangat.

Sang anak tidak dapat melakukan apa apa, karena kegiatan membahagiakan anak meskipun menyusahkan diri sendiri itu adalah satu -satunya hal yang dapat membuat sang ibu -yang Ia cintai dan Ia hormati, yang tidak melahirkannya tapi merawatnya sepenuh hati- bahagia.

Ahh, dilema-dilema…Ahh, Ibuu!!

salam

bolabunder kangen ibu

7 thoughts on “Dua Ibu, Arswendo Atmowiloto

  1. Covernya kaya buku tahun 90-an (inget “burung-burung mayar”-nya Romo Mangun)

    Arswendo memang punya ciri khas penceritaan yang menarik. Masih inget novel anak2-nya yang pertama kubaca klas 5 SD dulu: Pesta Jangkrik. Cuma sekarang mulai ragu untuk membaca karya2nya gara2 mendengar ideologi yang ia pegang. Sayang, padahal bukunya bagus2…

    • bobubaca says:

      ngomong2 soal arswendo, jadi ingat duluuu pernah mengalami percakapan seperti ini :
      teman saya : eh, kamu jangan nonton keluarga cemara!
      saya : hee? memang kenapa?
      Teman saya : Kan itu sinetron orang kris..ten..
      saya : so?

      i mean…oh c’mon, I cant believe her, she knows it’s good series! beside, she does watch friends, dulce maria, and india movie

  2. Bukan masalah non-I, neng… Kalo non-I mah, kan aku juga baca Romo Mangun tuh… Malah ni mau baca Mein Kampf…

    Hehehe, ini tentang sesuatu yang lain, yang kurasa tak sebaiknya dibahas di sini ^-^

    • bobubaca says:

      wakakaka, saya jg nggak maksud apa2…
      Relax, I know that you aren’t that shallow nur nur…

      saya cuma ingat aja percakapan itu.. keknya membekas banget deh, soalnya tiap kali nama arswendo disebut percakapan itu terngiang lagi, bkin saya geleng2 pala lagi getuh….

      mein kamf, adek saya yang baca ituh…

  3. tralalatrilili says:

    jd ikutan kangen mum..btw, titut koq lama g update tulisan yak? sibruk pastinya..hehe..padahal aq yo jarang ding..mizz ya so mad huney..:)

  4. anastaciaintan says:

    Hai nice too meet you,sebenernya lg iseng cari2 referensi tentang Arswendo gara2 aku jg baru aja baca bukunya Arswendo yang “kau memanggilku malaikat” (kado ultah), ee malah nyantol di blog ini. . .Jadi penasaran baca buku dua ibu. . .Hehehe. . .Salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s